DAN BARANGSIAPA YANG DIHINAKAN ALLAH, MAKA TIDAK ADA SEORANG PUN YANG MEMULIAKANNYA

Ini adalah salah satu kaidah (prinsip pokok) yang muhkam dalam masalah keadilan dan pembalasan , dan mentadabburinya memiliki pengaruh dalam pemahaman orang mukmin pada apa yang dilihat atau dibacanya dalam buku-buku sejarah, atau dalam realita hidup berupa perubahan zaman dan masa bersama para pelakunya, baik itu pada tingkat perorangan ataupun kelompok. Ia adalah kaidah Al-Quran yang ditunjukkan oleh firman Allah,

وَمَن يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِن مُّكْرِمٍ

“Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak ada seorang pun yang memuliakannya.” {QS.Al-Hajj:18}

Dan mungkin penyebutan ayat yang di dalamnya disebutkan kaidah (prinsip pokok) ini secara utuh termasuk hal yang dapat menjelaskan bagi kita bentuk-bentuk penghinaan yang menimpa manusia dari kedudukannya yang tinggi. Allah berfirman,

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِّنَ النَّاسِ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ وَمَن يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِن مُّكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاء

“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar dari manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan adzab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak ada seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” {QS.Al-Hajj:18}

Maka apakah anda memahami bersama saya, pada saat anda membaca ayat yang mulia ini, bahwa bentuk karomah (kemuliaan) seorang hamba yang paling tinggi, paling indah, dan paling mulia, adalah mentauhidkan Robbnya, mentauhidkanNya dalam masalah ibadah, dan menerjemahkan hal itu dengan sujud kepada Robbnya, merendahkan diri di hadapan Penciptanya, dan Pemberi rizkinya, dan barangsiapa yang perkara kebahagiaan, keselamatan, dan kemenangannya berada di Tangan Allah ‘Azza wajalla, niscaya dia melakukan hal itu sebagai bentuk pengakuan terhadap hak Allah, mengharap keutamaanNya, dan takut terhadap hukumanNya?!

Dan apakah anda juga memahami bahwa kerendahan dan kehinaan yang paling parah adalah dia menolak sujud kepada Robbnya, atau menyekutukan Penciptanya dengan tuhan yang lain?! Sehingga gunung-gunung yang tidak bisa mendengar, pepohonan, dan hewan melata yang tidak memiliki apa-apa lebih baik dari orang itu, dimana mereka itu sujud kepada PenciptaNya dan Sesembahannya yang Haq?!

Apabila hal ini telah jelas, maka sesungguhnya kaidah (prinsip pokok ajaran) Al-Quran yang mulia ini, وَمَن يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِن مُّكْرِمٍ “Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak ada seorang pun yang memuliakannya”, datang dalam konteks penjelasan siapa yang berhak mendapat adzab. Mereka itu adalah orang-orang yang menghinakan diri mereka sendiri dengan berbuat syirik terhadap Robb mereka, sehingga Allah menghinakan mereka dengan adzab, sebagaimana Dia ‘Azza wajalla berfirman,

وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ

“Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan adzab atasnya…” {QS.Al-Hajj:18}

Maka pada saat itu mereka tidak akan mendapatkan orang yang memuliakan mereka dengan memberi kemenangan ataupun syafa’at!

[Dikutip dari buku “Qowaa’idu Quraaniyyah, 50 qoo’idatan quraaniyyatan fiin nafsi wal hayaati”, 50 prinsip pokok ajaran Al-Quran bekal membangun jiwa yang kuat dan pribadi yang luhur, Dr. ‘Umar bin ‘Abdullah Al-Muqbil. Darul Haq, Hal.172-173]

Tinggalkan komentar