LA TAHZAN

::: Musibah atau ujian yang menimpa dirimu saat ini terasa berat? Atau sangat berat?

Tunggu dulu……

Kamu tidak sendirian…
Dan kamu belum merasakan yang terberat…..
Masih banyak orang2 di belakangmu merasakan yang jauh lebih berat dari apa yang kamu rasakan….

Saat ini ada dari mereka yang sedang tergeletak tidak berdaya melawan penyakit kronisnya yang belum sembuh2, padahal sudah bertahun2 dia merasakan seperti itu. Dia sudah menghabiskan banyak harta untuk mengobatinya, dan rela kehilangan segalanya, hilang kenikmatan2 duniawi darinya…

Saat ini ada dari mereka yang sedang siap menunggu diamputasi salah satu anggota tubuhnya karena sesuatu hal, entah tangan atau kakinya. Dan ada juga yang mengalami cacat fisik atau kehilangan sebagian panca indranya, sehingga dia harus siap menghadapi hari esok yang baru….baru tanpa anggota tubuhnya, dan cacat seumur hidupnya…hingga ajal datang menjemputnya entah kapan…

Saat ini ada juga dari mereka yang mengalami musibah bencana alam atau kebakaran sehingga harta dan keluarganya musnah dalam sekejap…semuanya yang dibangun dan dikumpulkannya selama puluhan tahun atau seumur hidupnya musnah dalam waktu sekejap atau hanya dalam hitungan menit atau jam…begitu juga keluarga yang dicintainya, orangtuanya atau istrinya atau suaminya atau anak2nya, semuanya tiada, meninggalkannya sendirian dalam kehidupannya ini…

Saat ini ada juga dari mereka yang mendapat vonis hukuman yang berat dari pengadilan dengan masa tahanan selama puluhan tahun, padahal dia tidak bersalah, dan dia dihukum karena fitnah. Dia akan merasakan kehidupan penjara yang kejam selama puluhan tahun atau seumur hidupnya. Telah terpisah kehidupannya dari keluarga yang dicintainya, dari hartanya, kenikmatan dunia luar…hingga dia menjadi seorang yang tua renta dan merasakan sisa2 nafasnya di dalam penjara yang sempit dan penuh kesengsaraan sampai tinggal namanya saja.

Saat ini ada dari mereka yang hidup kesepian dalam rumah tangganya. Sudah puluhan tahun dia tidak mendapatkan keturunan sehingga hari2nya selalu dalam kesepian. Rumahnya selalu hening dan sunyi, tiada terdengar suara anak2 tertawa dan menangis sepanjang hidupnya di rumahnya. Tidak ada yang bisa diajak bermain, bercanda dan belajar. Hari2nya selalu diisi dengan kesedihan dan kesepian. Hingga ajal datang, maka terputuslah catatan nasabnya.

Saat ini ada dari mereka yang hidupnya berada dalam kezhaliman seseorang, entah itu orangtuanya atau suaminya atau penguasanya. Puluhan tahun dia harus merasakan pahitnya hidup dizhalimi. Ibarat hidup di wilayah perang, rasa sakit dan sengsara selalu menyertainya dan menjadi hal yang biasa baginya. Tidak butuh kasur, tidak butuh makanan enak, tidak butuh pakaian yang layak, tidak butuh tempat tinggal, tidak butuh kawan, tidak butuh tertawa. Pandangannya selalu kosong, karena harapannya telah terkubur bersama jiwanya. Dia merasakan bahwa mati adalah lebih baik baginya daripada hidup…

Lihatlah mereka….
Masih banyak orang2 seperti mereka dibelakang kita…
Sehingga kita merasa tidak sendirian…
Mereka lebih berat ujiannya dari kita…
Dan ujian yang kita alami belum seberapa…
Ujian kita masih kecil dan belum ada apa2nya dimata mereka…
Jikalau mereka tahu, maka mereka akan menertawakan ujian kita…

Namun sesungguhnya ujian mereka juga masih kecil dan belum seberapa dibandingkan dengan ujiannya ‘mereka’…
Ujiannya ‘mereka’ jauh lebih besar daripada ujian yang mereka alami…
Dan mereka selalu bersabar, ridha dan bersyukur terhadap ujian yang mereka alami, walaupun ujian ‘mereka’ adalah ujian yang terberat melebihi ujian2 yang lain…
Siapakah ‘mereka’ itu?

‘Mereka’ adalah para Nabi/Rasul dan orang-orang shalih….

Bersabarlah dan jangan putus asa terhadap ujian yang kita hadapi, karena kita tidak sendirian…

Wallahu a’lam.

Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »

“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” [HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad (1/185). Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 3402 mengatakan bahwa hadits ini shahih.]

[ Abu Fahd NegaraTauhid ]

Tinggalkan komentar