MERASA DIRI PALING MERANA (KISAH NYATA)


Bismillahir-Rahmaanir-Rahim … Kisah nyata seorang hartawan berkebangsaan saudi bernama Ra’fat. Ia berobat kesana kemari demi mencari kesembuhan, lantaran liver akut yang diderita.

Banyak dokter dan rumah sakit yang sudah ia kunjungi di Saudi Arabia, namun kesembuhan nya tak kunjung didapat. Ra’fat mulai mengeluh. Badan nya kian kurus, layaknya seorang pesakitan. Saran dokter ia harus berobat ke rumah sakit spesialis liver di Guangzhou, China.

Tanpa berpikir panjang, Ra’fat pun segera berangkat. Begitu tiba, dokter yang memeriksa mengatakan bahwa ia harus segera di operasi. Ia pun menanyakan, “berapa besar kemungkinan keberhasilan nya?”

“Bisa selamat atau meninggal”jawab si dokter.

Mendapati jawaban dokter, Ra’fat mengiba “dok, sebelum operasi izinkan saya pulang untu berpamitan dengan kuluarga, sahabat, dan orang yang saya kenal.”

Dokter membalas, “Saya tidak berani menjamin keselamatan diri anda untuk kembali ke tanah air saudara kecuali dalam dua hari. Bila lebih dari itu Anda datang kembali kesini, mungkin anda akan mendapati dokter lain yang akan menangani operasi liver anda.”

Bagi Ra’fat dua hari itu cukup berarti. Ia pun segera menyewa pesawat jet untuk menuju ke tanah airnya.

Tiba di Arab Saudi, Ra’fat mendatangi kerabat, tetangga, dan semua orang yang pernah ia kenal, untuk meminta maaf dan berpamitan.

Dengan tubuh kurus tak berdaya, Ia merasa menjadi manusia yang paling merana. Seiring dalam kesedihannya Ia membatin “Ya Allah, rupanya keluarga, harta, dan yang perusahaan besar yang aku miliki tak ada yang mampu membantu untuk menyembuhkan penyakitku ini! semua tak ada guna, semua sia-sia!”

Hingga saat ia tengah berada di mobil bersama sopirnya. Tampak di muka sebuah toko daging, seorang wanita tengah berdiri megais sisa-sisa daging di onggokan tulang-tulang.

Ra’fat pun menepuk pundak sang sopir, lalu memintanya menepi. Lemah ia membuka pintu, dan kemudian berjalan bertatih-tatih menghapiri wanita itu.

“Ibu sedang Apa?”tanya Ra’fat, lirih.

Lantaran terlalu sering diacuhkan orang, wanita tersebut menjawab tangpa menoleh sedikitpun ke arah Ra’fat.

“Aku memuji Allah yang telah menuntunku ke tempat ini. Sudah berhari-hari aku dan 3 putri ku tidak makan. Namun hari ini, aku dapati sisa daging yang masih menempel di sisi tulang belulang ini. Aku berencana membuat kejutan dengan memasakan sup daging yang lezat buat mereka makan malan ini”

Subhanallah, batin Ra’fat bergetar hebat. Ia pun tak pernah menyangka ada manusia yang demikian melarat, namun penuh rasa syukur ini.

Ra’fat lantas melangkah menuju toko daging, lalu berkata ” Pak.. tolong siapkan untuk ibu itu dan keluarganya 1kg daging dalam seminggu dan aku akan membayarnya selama setahun.”

Mendengar suara Ra’fat, wanita tadi tertegun. Seolah tak percaya ia angkat wajahnya, lalu menoleh dan sejenak menatap Ra’fat.

Merasa malu ditatap seperti itu, Ra’fat kembali menoleh ke arah petugas toko, “Pak, tolong jangan hanya 1kg. Siapkan 2kg, dan aku akan membayarnya selama setahun penuh!” Ujar Ra’fat sambil membayar tunai di muka.

Saat hendak pergi, Ra’fat mendapati tangan wanita tadi tengah menengadah ka langit seraya berdoa: “Allohumma ya Allah, berikanlah rezeki, dan limpahkanlah karunia ke pada tuan ini. Jadikan ia manusia manusia mulia di dunia dan akhirat. Beri ia kenikmatan seperti yang engkau berikan kepada para hamba-Mu yang shalihin. Kabulkan setiap hajatnya dan berilah ia kesehatan lahir dan batin.”

Hati Ra’fat bergetar .. perlahan ia mulai merasakan ketentraman dan kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Ra’fat pun segera bergegas pergi, tanpa sadar keajaiban telah datang. Langkahnya tegap dan cepat menuju mobilnya, seperti sedia kala.

Sepanjang jalan, Ra’fat terus tersenyum mengingat doa wanita tadi. Perjalanan menuju rumah kerabat nya itu terasa indah.

Sampai tujuan, ia pun berpamitan dan meminta restu. Ia katakan kemungkingan operasi gagal sebab sakit liver akut yang diderita.

Anehnya. mendengar berita itu, sang kerabat berkata. “Janganlah bergurau. Kau tampak sehat begitu sehat. Wajah mu ceria. Sedikit pun tak ada tanda-tanda sedang sakit.”

Awal nya Ra’fat menganggap ucapan tadi sekedar menghibur dirinya. Namun, setelah ia mendatangi saudara dan kerabat yang lain semua nya berpendapat serupa.

Jelang Operasi …

Dua hari berlalu, Ra’fat di dampingi oleh istri dan anaknya kembali ke Cina, untuk menjalani operasi. Sebelum masuk ruangan, beberapa pemeriksaan pun dilakukan. setelah hasil pemeriksaan dipelajari, maka ketua tim dokter pun bertanya keheranan

“Aneh, dua hari yang lalu kami dapati liver tuan Ra’fat rusak parah dan harus dilakukan tindakan operasi. tapi setelah kami teliti, megapa liver ini menjadi sempurna lagi?!”

Kalimat dokter itu membuat Ra’fat dan keluarga sumringah. Berulang kali kalimat takbir dan tahmid terdengan meluncur dari mulut mereka.

Tinggalkan komentar